Sendi Setiawan: “Kenapa Saya Memilih Kuliah di FAI UMC…”

Saya orang biasa. Lahir dari keluarga biasa. Bukan keluarga ningrat. Bukan keluarga berkecukupan.  Meski begitu, alhamdulillah, saya merasa “kaya”, karena orangtua saya  mendukung penuh untuk saya dan adik saya untuk terus sekolah. Sebab, definisi orang “kaya” bagi kami adalah orang berilmu, orang yang masih mau belajar, dan orang yang berilmu–nsya Allah–di manapun dia berada  tidak akan merasa “miskin”.  Itu prinsip yang saya pegang. Itu prinsip yang orangtua saya tanamkan kepada saya dan adik saya. Meski kedua orangtua saya sendiri bukan orang berpendidikan.

Sejak sekolah di bangku SMK kelas dua, saya selalu berpikir bagaimana nasib studi saya sehabis lulus nanti. Saya teringat ayah saya yang menjadi seorang buruh di kota B. Penghasilan yang didapatnya per bulan tentu saja bakal memberatkan bila saya lanjut kuliah. Apalagi, saya sudah cari informasi  dan browsing di internet kalau kuliah itu membutuhkan biaya tidak sedikit.  Meski hanya dua bersaudara, saya tahu ayah saya bakal keberatan bebannya.

Saya melupakan sejenak urusan kuliah ini dan menjalani aktivitas sekolah seperti biasa.  Hingga suatu saat, sebulan sebelum pengumuman kelulusan SMK, seorang kawan saya memberitahukan bahwa di Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Cirebon sedang menerima mahasiswa baru dengan bantuan beasiswa yang besar. Saya bahagia mendengar berita tersebut.  “Alhamdulillah, ada kabar bagus nih buat belajar lagi,” bisik batin saya.

Ternyata, kabar dari kawan saya itu benar. Ketika saya datang ke ruang FAI UMC, bapak yang urus calon mahasiswa menegaskan kemudahan kuliah di FAI UMC, termasuk  beasiswanya. “Wah  bukan hoax ternyata,” ujar batin saya bersyukur.  Saat itu juga, saya langasung  registrasi. Saya ingat, selain berhadapan dengan bapak  yang urus Penerimaan Mahasiswa Baru, saya disambut  oleh dosen-dosen FAI yang hangat dan ceria. Saya merasa nyaman dan yakin kuliah di sini. Apalagi, saya juga dikabari kuliah di sini akan diampu oleh para dosen mumpuni dari berbagai latar belakang kampus terpercaya. Ada alumnus Universitas Al-Azhar, UIN Jakarta, UIN Yogyakarta, UIN Bandung, Universitas Paramadina, Univeristas Muhammadiyah Yogyakarta dan banyak lagi lainnya.

Oh yah, selain dosen-dosennya, saya baru tahu juga kalau di UMC ini fasilitasnya lengkap: ada ruang kuliah yang nyaman, ada labs bahasa, labs komputer, fasilitas olahraga, perpustakaan, wisma mahasiwa, pesantren tahfizh, dan ukm-ukm yang oke yang bisa mendukung minat dan hobi saya dan teman-teman laiinya.

Saat ini, ahamdulillah, saya sudah mau setahun di FAI UMC ini. Saya bersyukur mimpi saya untuk lanjut kuliah di tempat yang istimewa bisa terwujud.

 

2 Responses
  1. Arief Hidayat Afendi

    Inspiratif mirip perjalanan hidup Kasman Singodimejo tokoh pejuang Indonesia dalam tulisan yang berjudul “Hidup Adalah Perjuangan”

Leave a Reply